Minggu, 16 Juni 2013

studi islam dikalangan ilmuwan muslim

STUDI ISLAM DI KALANGAN ILMUAN MUSLIM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah   : Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : Ibu Rokhmah Ulfah, M. Ag


FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013




BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang
Sejak kedatangan Islam pada abad ke-13 M hingga saat ini, fenomena pemahaman keislaman umat Islam masih ditandai oleh keadaan amat variatif. Kita tidak tahu persis apakah kondisi demikian itu merupakan sesuatu yang alami yang harus diterima sebagai suatu kenyataan untuk diambil hikmahnya, ataukah diperlukan adanya standar umum yang perlu diterapkan dan diberlakukan kepada berbagai paham keagamaan yang variatif itu, sehingga walaupun keadaannya amat bervariasi tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta sejalan dengan data-data historis yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Hingga saat ini pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula komprehensif.[1]
Sejarah perkembangan studi Islam di kalangan ilmuwan muslim dari masa ke masa ada banyak kisah atau hal yang dapat dipelajari. Antara satu ilmuwan dengan yang lainnya memiliki ide pembaharuan yang berbeda dalam studi keislamannya.
Makna Islam sendiri berasal dari bahasa arab, terambil dari kata Salima yang berarti selamat sentosa . dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Islam adalah agama perdamaian, dan dua ajaran pokoknya yaitu keesaan Allah SWT dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.
Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh nabi Allah SWT, sebagaimana tersebut pada beberapa ayat kitab suci Al-Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah SWT, yang kita saksikan pada alam semesta.[2]   


II.                Rumusan Masalah

A.    Apa Pengertian studi Islam?
B.     Apa tujuan studi islam?
C.     Bagaimanakah studi Islam di kalangan ilmuan muslim?



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Studi Islam
Dirosah Islamiyah atau studi keislaman (di Barat di kenal dengan istilah Islamic Studies), secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan kata lain usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya, maupun praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Usaha mempelajari agama Islam dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat Islam saja, melainkan juga di laksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi Islam bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakan dan mengamalkannya secara benar, serta menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup (way of life). Sedangkan di luar kalangan umat Islam, studi Islam bertujuan untuk mempelajari seluk beluk agama dan praktek-praktek kegamaan yang berlaku di kalangan umat Islam, yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya, maka ilmu pengetahuan tentang seluk beluk agama dan praktek-praktek kegamaan Islam tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negatif.[3]

B.     Tujuan Studi Islam
Studi terhadap misi ajaran islam secara komprehensif dan mendalam adalah sangat diperlukan karena beberapa sebab sebagai berikut:

a.       Untuk menimbulkan kecintaan manusia terhadap ajaran islam yang di dasarkan kepada alasan yang sifatnya bukan hanya normative, yakni karena diperintah oleh Allah SWT dan bukan pula karena emosional semata-mata melainkan karena didukung oleh argumentasi yang bersifat rasional, kultural, dan aktual. Yaitu argumentasi yang masuk akal, dapat dihayati dan dirasakan oleh umat manusia.
b.      Untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa Islam baik secara normatif maupun secara kultural dan rasional adalah ajaran yang dapat membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik, tanpa harus mengganggu keyakinan agama islam.
c.       Untuk menghilangkan citra negatif dari sebagian masyarakat terhadap ajaran Islam.

C.     Studi Islam di Kalangan Ilmuan Muslim
Masa kebangkitan Islam atau disebut dengan masa pembaharuan mulai muncul pada tahun 1800M. Semenjak umat Islam menyadari kemunduran dan ketertinggalannya dari bangsa-bangsa barat, timbullah ide-ide pembaharuan dalam Islam. Ide-ide itu muncul dari para tokoh pembaharuan dunia Islam untuk mengajak umat Islam agar sadar, bangkit, dan bangun dari tidur nyenyaknya. Umat Islam harus sadar bahwa bangsa barat datang bukan untuk membangun, melainkan untuk menjajah umat islam dan mengeruk kekayaan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Ide-ide para ulama’ pembaharuan itu, lambat laun mendapat tanggapan positif dari kalangan umat Islam dari seluruh dunia. Hal ini membuat bangsa-bangsa barat menjadi khawatir dan ketakutan oleh kekuatan dan bangkitnya umat islam tersebut.

Kekhawatiran bangsa barat tersebut akhirnya menjadi kenyataan pada masa itu. Muncullah ide dan gagasan pembaharuan dari kaum intelektual muslim dari berbagai negara  seperti India, Turki, Mesir, untuk menandai dimulainya abad kebangkitan umat Islam.

Para pembaharu dari kaum intelektual muslim tersebut melakukan studi keislaman dengan melakukan suatu gerakan pemurnian terhadap ajaran agama Islam yang sesuai dengan ajaran yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits. Diantara para pembaharu tersebut adalah:

a.       Muhammad bin Abdul Wahab
Ulama’ besar yang tinggal di Najed, Saudi Arabia itu sangat keras berjuang melakukan pembaharuan akidah umat islam. Ia menganjurkan agar umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu kitabnya yaitu kitab tauhid, sebuah kitab yang berisi tentang mengesakan Allah SWT dengan membasmi praktek-praktek tahayul, bid’ah khurafat yang ada pada umat Islam dan mengajak untuk kembali ke ajaran tauhid yang sebenarnya.

b.      Rifa’ah Badwi Rufi’ At-Tahtawi
Beliau pelopor pembaharu Islam di Mesir. Ia menganjurkan agar umat Islam membuka diri bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa barat. Diakui atau tidak, dan disadari atau tidak bahwa umat Islam pada waktu itu telah jauh tertinggal oleh bangsa barat.
Untuk membuka luas gagasannya, Ia menegaskan bahwa pintu ijtihad itu masih terbuka, tetap terbuka, dan tidak akan pernah di tutup sampai hari kiamat. Untuk itu, umat Islam segera berlomba-lomba mempelajari ilmu pengetahuan modern sebagaimana yang dipelajari oleh bangsa-bangsa barat. Sebab hanya dengan demikian, umat Islam akan bangkit dari ketertinggalannya.

c.       Jamaludin Al Afghani
Beliau lahir di Asadabad dengan pemikiran pembaharuannya adalah supaya semua unsur umat Islam harus dipersatukan dibawah panji khilafah Islamiyyah dalam naungan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu kaum muslimin. Cotak pemerintahan otokrasi harus diubah dan diganti dengan pemerintahan yang demokratis. Kepala Negara harus mengadakan syura dengan pemipin-pemimpin masyarakat yang lebih berpengalaman. Untuk mengimpletasikan gagasan politiknya itu maka Al Afghani mengemasnya dengan gerakan Pan islamisme yaitu gerakan penyatuan umat Islam.

d.      Muhammad Abduh
Pembaharu Islam dari Mesir, beliau di lahirkan di sebuah kampung Mesir Hilir. Pemikiran pembaharuannya adalah pembebasan umat Islam dari belenggu taqlid yang melanda umat Islam saat itu sehingga menjadi jumud (tidak bisa berkembang), pembukaan pintu ijtihad, penghargaan terhadap akal (rasio, berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits), kekuasaan Negara harus dibatasi dengan konstitusi (Undang-undang).

e.       Muhammad Iqbal
Seorang muslim India dengan karyanya The Reconstruction of Religious Though In Islam (pembangunan kembali pemikiran keagamaan dalam islam),
Menurut beliau Islam pada hakikatnya mengajarkan dinamisme. Al qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal terhadap ayat atau tanda yang terdapat dalam alam, seperti matahari, bulan, pertukaran siang dan malam, dan sebagainya. Orang yang tidak peduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda itu akan tetap buta terhadap masa-masa yang akan datang. Konsep Islam mengenai alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang. kemajuan serta kemunduran dibuat Tuhan silih berganti di antara manusia yang tinggal di muka bumi ini, dan hal itu mengandung arti dinamis.







BAB III
KESIMPULAN

Semenjak umat Islam sadar akan ketertinggalannya dari bangsa lain, secara spontanitas muncullah ide-ide pembaharuan dari para intelektual muslim. Lambat laun ide-ide tersebut mendapat tanggapan dari umat islam, hal itu membuat bangsa barat menjadi khawatir oleh kebangkitan umat islam.
 Ide-ide pembaharuan tersebut di aplikasikan dengan melakukan studi keislaman, melakkan suatu gerakan pemurnian terhadap ajaran agama Islam yang sesuai dengan ajaran yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits guna untuk mempelajari secara mendalam tentang apa hakikat Islam, apa saja pokok–pokok isi ajaran agama Islam dan apa saja sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan dinamis.















BAB IV
PENUTUP

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin. Demikianlah makalah yang dapat kami buat, kami menyadari akan keterbatasan pengetahuan kami dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami mengharap adanya kritik dan saran dari pembaca demi sempurnanya makalah kami yang selanjutnya. Kami mohon maaf atas segala kekurangan makalah yang kami buat ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.























DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2011. Metodologi Studi Islam. Rajawali Pers: Jakarta
Wahid Sy, Ahmad. 2008. Sejarah Kebudayaan Islam. Armico: Bandung
Muhaimin, Tadjab, Abdul Mudjib. 1994. Dimensi-dimensi Studi Islam. Abditama: Surabaya



[1] Lihat Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1977), cet. I, hlm. 49-50
[2] Maulana Muhammad Ali, Islamologi (Dinul Islam) (Jakarta: Ikhtiar Baru-Van Hoeve, 1980), hlm 2
[3] Drs. Muhaimin. MA, Drs. Tadjab. MA, Drs. Abdul Mudjib, Dimensi-dimensi Studi Islam (Surabaya: Abditama, 1994), hlm. 11-12

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar